PENGAMBILAN SAMPLE DARAH
PENDAHULUAN
Pemeriksaan
analisa gas darah yaitu suatu pemeriksaan gas darah yag dilakukan melalui darah
arteri. Lokasi pengambilan darah yang umum dilakukan yaitu Arteri Radialis,
Arteri Brakhialis, dan Arteri Femoralis. Analisa gas darah arteri berguna untuk
mengkaji status oksigenasi klien (tekanan karbondioksida oksigen arterial
{PaCO2}), dan juga untuk menilai keseimbangan asam basa.
Hasil
dari pemeriksaan gas darah sangat berarti untuk menilai hasil tindakan
penatalaksanaan hasil oksigenasi klien, terapi oksigen, dan untuk mengevaluasi
respon tubuh klien terhadap tindakan dan terapi misalnya pada saat klien
menjalani weaning dari pengukuran
ventilator. Sample darah yang diambil digunakan untuk mengukur komponen gas didalam
darah arteri dan pH darah. Nilai yang diperoleh mereflekasikan kualitas
ventilasi dan perfusi jaringan.
TINJAUAN TEORI
Gas
darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH(dan juga keseimbangan asam basa),
oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarabonat, saturasi oksigen, dan
kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah
secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien
penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan
hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat
menegakkan suatu diagnose hanya dari penilaian analisa gas darah dan
keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik,dan data-data laboratorium lainnya. Pengambilan sample darah arteri
hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terbukti mampu
mendemonstrasikan kemampuannya setelah melalui pelatihan normal.
Beberapa
arteri dapat digunakan oleh pengumpulan sample darah arteri. Pilihan pertama
adalah arteri radialis yang terletak pada sisi ibu jari pergelangan tangan. Lokasi
lain adalah arteri brakhialis dan femoralis namun memiliki beberapa kelemahan
yaitu letaknya lebih dalam dari pada arteri radialis, memiliki sirkulasi
kolateral yang buruk dan dikelilingi jaringan yang mungkin dapat rusak karena
kesalahn teknik pengambilan (World Health Organization, 2010).
Komplikasi
pengambilan sample darah :
1. Arteriospasme,
atau kontraksi involunter pada arteri, dapat dicegah dengan menjaga pasien
tetap rileks.
2. Hematoma
atau perdarahan yang berlebihan, dapat dicegah dengan menekan area penusukan
segera setelah pengambilan sample.
3. Kerusakan
saraf dapat dicegah dengan pemilihan lokasi sampling yang tepat.
4. Masalah
lain seperti hipotensi, pusing, berkeringat, pucat, bahkan pingsan.
Factor yang mempengaruhi
pemeriksaan AGD
1. Gelembung
udara
Tekanan
oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sample darah maka ia
cendrung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sample darah kurang
dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.
2. Antikoagulan
Antikoagulan
dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian heparin
berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangka pH tidak terpengaruh karena
efek penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman heparin.
3. Metabolism
Sample
darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia
membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karna itu, sebaiknya sample
diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika sample tidak langsung
diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin beberapa jam.
4. Suhu
Ada
hubugan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO2 dan
PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO2.
Nilai
pH darah yang abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan nilai PCO2
yang abnormal terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi. Hubungan antara
tekanan dan saturasi oksigen merupakan factor yang penting pada nilai
oksigenasi daraha.
5. FiO2
Fraksi
oksigen yang dihirup (FiO2) adalah persentase oksigen yang dihantarkan dengan range
antara 21%-100% untuk mengoptimalkan pertukaran gaspada pasien.
Hal yang perlu diperhatikan
1. Tindakan
fungsi arteri harus dilakukan oleh perawat yang sudah terlatih.
2. Spuit
yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk mencegah
darah membeku.
3. Kaji
ambang nyeri klien, apabila pasien tidak mampu menoleransi nyeri, berikan
anastesi local.
4. Bila
menggunakan arteri radialis dan arteri ulnaris, lakukan allen’s test untuk
mengetahui kepatenan arteri. Area lain untuk pengambilan sample arteri
brakhialis, arteri femoralis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior.
5. Untuk
memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah yang keluar,
apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah arteri.
6. Apabila
darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata dan
tidak membeku.
7. Lakukan
penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras daripada
vena)
8. Keluarkan
udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujug jarum
dengan karet atau gabus.
9. Ukur
tanda avital (terutama suhu) sebelum darah diambil.
10. Sgera
bkirim ke laboratorium (sito).
Alat dan Bahan
1. Spuit
disposibel BGA 2 ml atau 3 ml dengan jarum ukuran 22 atau 25 (untuk anak-anak)
dan nomor 20 atau 21 untuk dewasa.
2. Penutup
jarum (gabus / karet)
3. Heparin
4. Kasa
steril
5. Betadine
6. Kapas
alcohol
7. Plester
dan gunting
8. Pengalas
9. Handuk
kecil
10. Handscoon
11. Obat
anestesi local (jika dibutuhkan)
12. Wadah
berisi es
13. Kertas
label untuk nama
14. Thermometer
15. Bengkok
PROSEDUR KETERAMPILAN
A.
Tahap Pra Interaksi
1.
Mengecek program terapi
2.
Mencuci tangan
3.
Mengidentifikasi pasien dengan benar
4.
Menyiapkan dan mendekatkan alat kedekat
pasien
B.
Tahap Orientasi
1.
Mengucapkan salam, menyapa pasien,
memperkenalkan diri.
2.
Melakukan kontrak untuk tindakan yang
akan dilakukan.
3.
Menjelaskan tujuan dan prosedur
tindakan.
4.
Menanyakan kesiapan dan meminta kerja
sama pasien.
C.
Tahap Kerja
1.
Menjaga privacy.
2.
Mengajak pasien membaca Basmalah dan
berdoa.
3.
Posisikan
pasien tidur berbaring dengan nyaman.
4.
Pakai
handscoon.
5.
Palpasi
arteri radialis.
6.
Lakukan
allen’s test
Cara allen’s test, Minta pasien
untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri
radialis dan ulnaris, minta pasien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan
pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari tabgan. Jari-jari dan tangan
harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukan test allen’s positif. Apabila
tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan
negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan lain.
7.
Hiperekstensikan
pergelangan tangan pasien diatas gulungan handuk.
8.
Pasang
perlak pengalas diantara ugulugan handung dan pergelangan tangan.
9.
Raba
kembali arteri radialis dan palpasi pulsasi yang paling keras dengan
menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
10.
Desinfeksi
area yang akan dipungsi menggunakan betadine, kemudian diusap dengan kapas alcohol.
11.
Berikan
anastesi local jika perlu
12.
Bilas
spuit ukuran 3 ml dengan sedikit heparin 1000 U/ml dan kemudian kosongkan
spuit, biarkan heparin berada dalam jarum dan spuit.
13.
Desinfeksi
ujung jari tangan dengan kapas alcohol.
14.
Sambil
mempalpasi arteri, masukkan jarum dengan sudut 45 drajat sambil menstabilkan
arteri pasien dengan tangan yang lain.
15.
Observasi
adanya pulsasi (denyutan) aliran darah masuk spuit (apabila darah tidak bisa
naik sendiri, kemungkinan pungsi mengenai vena)
16.
Ambil
darah 1 sampai 2 ml
17.
Tarik
sput dari arteri, tekan bekas pungsi dengan meenggunakan kapas alcohol 5-10
menit
18.
Buang
udara yang berada dalam spuit, sumbat spuit dengan gabus atau karet.
19.
Putar-putar
spuit sehingga darah bercampur dengan heparin.
20.
Tempatkan
spuit diantara es yang sudah dipecah.
21.
Ukur
suhu dan pernapasan klien.
22.
Beri
label pada specimen yang berisi nama, suhu, konsentrasi oksigen yang digunakan pasien
jika klien menggunakan terapi oksigen.
23.
Beri
plester dan kasa jika area bekas tusukan sudah tidak mengeluarkan darah (untuk
pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan, penekanan membutuhkan waktu yang
lama).
24.
Lepas
sarung tangan.
D.
Tahap Terminasi
1.
Melakukan evaluasi tindakan yang
dilakukan.
2.
Menyampaikan rencana tindak lanjut /
RTL
3.
Merapikan pasien dan lingkungan.
4.
Mengajak pasienembaca hamdalah dan
berdo’a kepada Allah.
5.
Berpamitan dengan pasien dan
menyampaikan kontrak yang akan datang.
6.
Membereskan dan mengembalikan alat ke
tempat semula.
7.
Mencuci tangan.
8.
Kirim
segera sample darah ke laboratorium.
9.
Mencatat kegiatan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Bickley
L.S, Szilagy PG, Bates’ guide to physical examination and history taking 11th
Philadelphia: Wolters Kluwer Health | Lippincot Williams & Wilkins; 2003. P.
344,361-5.
Black,
J.M. & Hawks , J.H (2014). Keperawatan medical bedah manajemen klinis untuk
hasil yang diharapkan ed.8.Singapura: Elsevier.
World
Health Organization. (2010). WHO guidelines on drawing blood: best practices in
phlebotomy. Geneva, Switzerland: wHO Press, Retrieved
Tidak ada komentar:
Posting Komentar