Senin, 11 Desember 2017

Cara Pengambilan Sample Darah




PENGAMBILAN SAMPLE DARAH





 
PENDAHULUAN
Pemeriksaan analisa gas darah yaitu suatu pemeriksaan gas darah yag dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yang umum dilakukan yaitu Arteri Radialis, Arteri Brakhialis, dan Arteri Femoralis. Analisa gas darah arteri berguna untuk mengkaji status oksigenasi klien (tekanan karbondioksida oksigen arterial {PaCO2}), dan juga untuk menilai keseimbangan asam basa.
Hasil dari pemeriksaan gas darah sangat berarti untuk menilai hasil tindakan penatalaksanaan hasil oksigenasi klien, terapi oksigen, dan untuk mengevaluasi respon tubuh klien terhadap tindakan dan terapi misalnya pada saat klien menjalani weaning dari pengukuran ventilator. Sample darah yang diambil digunakan untuk mengukur komponen gas didalam darah arteri dan pH darah. Nilai yang diperoleh mereflekasikan kualitas ventilasi dan perfusi jaringan.

TINJAUAN TEORI
Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH(dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarabonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnose hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,dan data-data laboratorium lainnya. Pengambilan sample darah arteri hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terbukti mampu mendemonstrasikan kemampuannya setelah melalui pelatihan normal.
Beberapa arteri dapat digunakan oleh pengumpulan sample darah arteri. Pilihan pertama adalah arteri radialis yang terletak pada sisi ibu jari pergelangan tangan. Lokasi lain adalah arteri brakhialis dan femoralis namun memiliki beberapa kelemahan yaitu letaknya lebih dalam dari pada arteri radialis, memiliki sirkulasi kolateral yang buruk dan dikelilingi jaringan yang mungkin dapat rusak karena kesalahn teknik pengambilan (World Health Organization, 2010).
Komplikasi pengambilan sample darah :
1.      Arteriospasme, atau kontraksi involunter pada arteri, dapat dicegah dengan menjaga pasien tetap rileks.
2.      Hematoma atau perdarahan yang berlebihan, dapat dicegah dengan menekan area penusukan segera setelah pengambilan sample.
3.      Kerusakan saraf dapat dicegah dengan pemilihan lokasi sampling yang tepat.
4.      Masalah lain seperti hipotensi, pusing, berkeringat, pucat, bahkan pingsan.

Factor yang mempengaruhi pemeriksaan AGD
1.      Gelembung udara
Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sample darah maka ia cendrung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sample darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.
2.      Antikoagulan
Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian heparin berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangka pH tidak terpengaruh karena efek penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman heparin.
3.      Metabolism
Sample darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karna itu, sebaiknya sample diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika sample tidak langsung diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin beberapa jam.
4.      Suhu
Ada hubugan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO2 dan PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO2.
Nilai pH darah yang abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan nilai PCO2 yang abnormal terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi. Hubungan antara tekanan dan saturasi oksigen merupakan factor yang penting pada nilai oksigenasi daraha.
5.      FiO2
Fraksi oksigen yang dihirup (FiO2) adalah persentase oksigen yang dihantarkan dengan range antara 21%-100% untuk mengoptimalkan pertukaran gaspada pasien.

Hal yang perlu diperhatikan
1.      Tindakan fungsi arteri harus dilakukan oleh perawat yang sudah terlatih.
2.      Spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk mencegah darah membeku.
3.      Kaji ambang nyeri klien, apabila pasien tidak mampu menoleransi nyeri, berikan anastesi local.
4.      Bila menggunakan arteri radialis dan arteri ulnaris, lakukan allen’s test untuk mengetahui kepatenan arteri. Area lain untuk pengambilan sample arteri brakhialis, arteri femoralis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior.
5.      Untuk memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah yang keluar, apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah arteri.
6.      Apabila darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku.
7.      Lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras daripada vena)
8.      Keluarkan udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujug jarum dengan karet atau gabus.
9.      Ukur tanda avital (terutama suhu) sebelum darah diambil.
10.  Sgera bkirim ke laboratorium (sito).

Alat dan Bahan
1.      Spuit disposibel BGA 2 ml atau 3 ml dengan jarum ukuran 22 atau 25 (untuk anak-anak) dan nomor 20 atau 21 untuk dewasa.
2.      Penutup jarum (gabus / karet)
3.      Heparin
4.      Kasa steril
5.      Betadine
6.      Kapas alcohol
7.      Plester dan gunting
8.      Pengalas
9.      Handuk kecil
10.  Handscoon
11.  Obat anestesi local (jika dibutuhkan)
12.  Wadah berisi es
13.  Kertas label untuk nama
14.  Thermometer
15.  Bengkok

PROSEDUR KETERAMPILAN
A.                Tahap Pra Interaksi
1.      Mengecek program terapi
2.      Mencuci tangan
3.      Mengidentifikasi pasien dengan benar
4.      Menyiapkan dan mendekatkan alat kedekat pasien
B.                 Tahap Orientasi
1.      Mengucapkan salam, menyapa pasien, memperkenalkan diri.
2.      Melakukan kontrak untuk tindakan yang akan dilakukan.
3.      Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.
4.      Menanyakan kesiapan dan meminta kerja sama pasien.
C.                 Tahap Kerja
1.      Menjaga privacy.
2.      Mengajak pasien membaca Basmalah dan berdoa.
3.      Posisikan pasien tidur berbaring dengan nyaman.
4.      Pakai handscoon.
5.      Palpasi arteri radialis.
6.      Lakukan allen’s test
Cara allen’s test, Minta pasien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri radialis dan ulnaris, minta pasien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari tabgan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan lain.
7.      Hiperekstensikan pergelangan tangan pasien diatas gulungan handuk.
8.      Pasang perlak pengalas diantara ugulugan handung dan pergelangan tangan.
9.      Raba kembali arteri radialis dan palpasi pulsasi yang paling keras dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
10.  Desinfeksi area yang akan dipungsi menggunakan betadine, kemudian diusap dengan kapas alcohol.
11.  Berikan anastesi local jika perlu
12.  Bilas spuit ukuran 3 ml dengan sedikit heparin 1000 U/ml dan kemudian kosongkan spuit, biarkan heparin berada dalam jarum dan spuit.
13.  Desinfeksi ujung jari tangan dengan kapas alcohol.
14.  Sambil mempalpasi arteri, masukkan jarum dengan sudut 45 drajat sambil menstabilkan arteri pasien dengan tangan yang lain.
15.  Observasi adanya pulsasi (denyutan) aliran darah masuk spuit (apabila darah tidak bisa naik sendiri, kemungkinan pungsi mengenai vena)
16.  Ambil darah 1 sampai 2 ml
17.  Tarik sput dari arteri, tekan bekas pungsi dengan meenggunakan kapas alcohol 5-10 menit
18.  Buang udara yang berada dalam spuit, sumbat spuit dengan gabus atau karet.
19.  Putar-putar spuit sehingga darah bercampur dengan heparin.
20.  Tempatkan spuit diantara es yang sudah dipecah.
21.  Ukur suhu dan pernapasan klien.
22.  Beri label pada specimen yang berisi nama, suhu, konsentrasi oksigen yang digunakan pasien jika klien menggunakan terapi oksigen.
23.  Beri plester dan kasa jika area bekas tusukan sudah tidak mengeluarkan darah (untuk pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan, penekanan membutuhkan waktu yang lama).
24.  Lepas sarung tangan.
D.             Tahap Terminasi
1.      Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan.
2.      Menyampaikan rencana tindak lanjut / RTL
3.      Merapikan pasien dan lingkungan.
4.      Mengajak pasienembaca hamdalah dan berdo’a kepada Allah.
5.      Berpamitan dengan pasien dan menyampaikan kontrak yang akan datang.
6.      Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula.
7.      Mencuci tangan.
8.      Kirim segera sample darah ke laboratorium.
9.      Mencatat kegiatan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Bickley L.S, Szilagy PG, Bates’ guide to physical examination and history taking 11th Philadelphia: Wolters Kluwer Health | Lippincot Williams & Wilkins; 2003. P. 344,361-5.
Black, J.M. & Hawks , J.H (2014). Keperawatan medical bedah manajemen klinis untuk hasil yang diharapkan ed.8.Singapura: Elsevier.
World Health Organization. (2010). WHO guidelines on drawing blood: best practices in phlebotomy. Geneva, Switzerland: wHO Press, Retrieved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diare

BAB I PENDAHULUAN A.       Latar Belakang       Diare seringkali dianggap penyakit yang biasa dan sering dianggap sepele penangan...