Senin, 11 Desember 2017

Pemberian Obat Parentral : Injeksi Intramuskular (IM)





PEMBERIAN OBAT PARENTRAL : INJEKSI INTRAMUSKULAR (IM)

  
PENDAHULUAN
Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil untuk dimuinum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parentral), namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong pasien untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan. Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain (Black & Hawks, 2014). Jadi disini kita akan membahas terkait konsep pemberian obat parentral injeksi intravena (IV).

TINJAUAN TEORI
A.                Definsi
Pemberian obat melalui intramuscular (IM) adalah salah satu metode pemberian obat parentral dengan cara memasukannya kedalam jaringan otot untuk diabsorbsi dengan menggunakan spuit.

Lokasi penyuntikan yang dapat digunakan :
1.     Area Dorsogluteal (paling sering digunakan)
2.      Area Vastus Lateralis
3.      Area Deltoid
4.      Area Ventrogluteal
5.      Area Rektus Femois

Hal yang harus diperhatikan dalam memberikan obat intramuscular (IM) :
1.      Tempat penyuntikan harus tepat. Penyuntikan pada bokong harus tepat karna bila salah dapat mengenai saraf ischiadicus dan mengakibatkan kelumpuhan.
2.      Bila pasien harus mendapat beberapa kali suntikan, usahakan agar penyuntikkan dilakukan pada tempat yang lain.
3.      Untuk obat yang mengandung minyak, waktu memasukkan obat harus perlahan supaya pasien tidak kesakitan.
4.      Sebelum memberikan obat perawat harus mengetahui diagnosa medis pasien, indikasi pemberian obat, dan efek samping obat. Obat harus disiapkan dengan prinsip 12 benar pemberian obat :
1.      Benar obat.
2.      Benar dosis.
3.      Bemar pasien.
4.      Benar waktu pemberian.
5.      Benar cara pemberian.
6.      Benar dokumentasi.
7.      Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi pasien.
8.      Hak pasien untuk menolak.
9.      Benar pengkajian.
10.  Bbenar evaluasi.
11.  Benar raksi terhadap makanan.
12.  Benar reaksi terhadap obat lain.
5.      Perawat harus memastikan bahwa pasien mendapatkan obatnya, bila adanya penolakan pada suatu jenis obat, maka perawat dapat mengkaji penyebab penolakan, dan dapat mengkolaborasikannya dengan dokter yang menangani pasien, bila pasien atau keluarga tetap menolak pengobatan setelah pemberian inform consent, maka pasien maupun keluarga yang bertanggungjawab menandatangani surat penolakan untuk pembuktian penolakan terapi.

B.                 Alat dan Bahan
1.      Handscoon
2.      Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
3.      Jarum spuit sesuai dengan kebutuhan
4.      Bak instrumen
5.      Kapas alkohol / air hangat dalam kom (secukupnya)
6.      Perlak dan pengalas
7.      Obat sesuai program terapi
8.      Bengkok
9.      Buku injeksi / daftar obat
10.  Plester dan kasa steril (bila perlu)

C.                Prosedur keterampilam
A.                Tahap Pra Interaksi
1.      Mengecek program terapi
2.      Mencuci tangan
3.      Mengidentifikasi pasien dengan benar
4.      Menyiapkan dan mendekatkan alat kedekat pasien
B.                 Tahap Orientasi
1.      Mengucapkan salam, menyapa pasien, memperkenalkan diri.
2.      Melakukan kontrak untuk tindakan yang akan dilakukan.
3.      Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.
4.      Menanyakan kesiapan dan meminta kerja sama pasien.
C.                 Tahap Kerja
1.      Menjaga privacy.
2.      Mengajak pasien membaca Basmalah dan berdoa.
3.      Memperhatikan prinsip 12 benar pemberian obat.
4.      Mengatur posisi pasien sesuai tempat penyuntikan.
5.      Membebaskan daerah yang akan diinjeksi.
6.      Memilih area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan, peradangan atau rasa gatal (menghindari gangguan absorbsi obat).
7.      Memasang perlak dan alasnya dibawah area penyuntikkan.
8.      Memakai handscoon.
9.      Menyiapkan obat:
a.           Mendesinfeksikan tutup botol dengan menggunakan kapas alkohol.
b.          Membuka tutup jarum spuit.
c.          Dengan hati-hati menusuk jarum secara tegak lurus dengan tepat ditengah-tengah karet dari vial.
d.     Mengambil obat dari vial dengan memposisikan vial terbalik, pastikan ujung jarum berada dicairan obat.
e.          Tarik plunger untuk mengaspirasi obat yang dibutuhkan, kemudian cabut jarum dari vial.
f.      Aspirasikan obat ke dalam spuit untuk mencegah obat terbuang bersama jarum, kemudian ganti jarum spuit dengan jarum yang baru.
g.          Mengeluarkan udara dari dalam spuit sampai ujung jarum (keluar satu tetes obat dari ujung jarum)
h.            Memeriksa kembali jumlah larutam yang ada pada spuit
i.              Meletakkan spuit ke dalam bak instrumen.
10.  Menentukan tempat penyuntikan
11.  Membersihkan kulit dengan kapas alkohol / air hangat (melingkar dari arah dalam kearah luar dengan diameter 5 cm), tunggu sampai kering.
12.  Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk meregangkan area penyuntikan.
13.  Menusukkan spuit dengan sudut 90 drajat, jarum masuk 2/3 bagian sampai ke jaringan otot (gerakan yang cepat saat menusukkan jarim dapat mengurangi rasa nyeri).
14.  Melakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk spuit.
15.  Jika terdapat darah kemungkinan jarum mengenai pembuluh darah :
a.             Tarik kembali jarum dari kulit.
b.            Tekan tempat penusukkan dengan kapas alkohol.
c.             Observasi adanya Hematom atau memar, kalau perlu berikan plester.
d.            Siapkan obat yang baru, mulai dari awal, pilih area penusukan yang baru.
16.  Jika tidak terdapat darah, masukkan obat secara perlahan.
17.  Mencabut jarum dari tempat tusukan.
18.  Menekan daerah tusukan dengan kapas basah untuk menghilangkan nyeri.
19. Membuang spuit ke dalam bengkok (jarim tertutup) atau ke dalam safety box (jarum terbuka).
D.             Tahap Terminasi
1.      Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan.
2.      Menyampaikan rencana tindak lanjut / RTL
3.      Merapikan pasien dan lingkungan.
4.      Mengajak pasienembaca hamdalah dan berdo’a kepada Allah.
5.      Berpamitan dengan pasien dan menyampaikan kontrak yang akan datang.
6.      Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula.
7.      Mencuci tangan.
8.      Mencatat kegiatan pasien.



DAFTAR PUSTAKA
Black, J.M. & Hawks, J.H (2014) Keperawatan medikal bedah manajemen klinis untuk hasil yang diharapkan ed.8, Singapura: Elsevier.
Koizer, B. (2008). Fundamental of nursing: concept, process and practice. Pearson Education.
Timby, B. K (2009). Fundamental Nursing Skills and Concepts. Philadelphia: Lippincot William & Wilkins.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diare

BAB I PENDAHULUAN A.       Latar Belakang       Diare seringkali dianggap penyakit yang biasa dan sering dianggap sepele penangan...