PEMBERIAN
OBAT PARENTRAL : INJEKSI INTRAMUSKULAR (IM)
PENDAHULUAN
Perawat
harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil
untuk dimuinum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parentral),
namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut.
Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh
perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong pasien untuk lebih proaktif jika
membutuhkan pengobatan. Perawat berusaha membantu klien dalam membangun
pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap
obat yang dipesankan dan turut serta bertanggung jawab dalam pengambilan
keputusan tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain (Black &
Hawks, 2014). Jadi disini kita akan membahas terkait konsep pemberian obat parentral
injeksi intravena (IV).
TINJAUAN
TEORI
A.
Definsi
Pemberian obat melalui
intramuscular (IM) adalah salah satu metode pemberian obat parentral dengan
cara memasukannya kedalam jaringan otot untuk diabsorbsi dengan menggunakan
spuit.
Lokasi penyuntikan yang dapat digunakan :
1. Area
Dorsogluteal (paling sering digunakan)
2. Area
Vastus Lateralis
3. Area
Deltoid
4. Area
Ventrogluteal
5. Area
Rektus Femois
Hal yang harus diperhatikan dalam memberikan
obat intramuscular (IM) :
1. Tempat
penyuntikan harus tepat. Penyuntikan pada bokong harus tepat karna bila salah
dapat mengenai saraf ischiadicus dan mengakibatkan kelumpuhan.
2. Bila
pasien harus mendapat beberapa kali suntikan, usahakan agar penyuntikkan dilakukan
pada tempat yang lain.
3. Untuk
obat yang mengandung minyak, waktu memasukkan obat harus perlahan supaya pasien
tidak kesakitan.
4. Sebelum
memberikan obat perawat harus mengetahui diagnosa medis pasien, indikasi
pemberian obat, dan efek samping obat. Obat harus disiapkan dengan prinsip 12
benar pemberian obat :
1. Benar
obat.
2. Benar
dosis.
3. Bemar
pasien.
4. Benar
waktu pemberian.
5. Benar
cara pemberian.
6. Benar
dokumentasi.
7. Benar
pendidikan kesehatan perihal medikasi pasien.
8. Hak
pasien untuk menolak.
9. Benar
pengkajian.
10. Bbenar
evaluasi.
11. Benar
raksi terhadap makanan.
12. Benar
reaksi terhadap obat lain.
5. Perawat
harus memastikan bahwa pasien mendapatkan obatnya, bila adanya penolakan pada
suatu jenis obat, maka perawat dapat mengkaji penyebab penolakan, dan dapat
mengkolaborasikannya dengan dokter yang menangani pasien, bila pasien atau
keluarga tetap menolak pengobatan setelah pemberian inform consent, maka pasien
maupun keluarga yang bertanggungjawab menandatangani surat penolakan untuk
pembuktian penolakan terapi.
B.
Alat
dan Bahan
1. Handscoon
2. Spuit
dengan ukuran sesuai kebutuhan
3. Jarum
spuit sesuai dengan kebutuhan
4. Bak
instrumen
5. Kapas
alkohol / air hangat dalam kom (secukupnya)
6. Perlak
dan pengalas
7. Obat
sesuai program terapi
8. Bengkok
9. Buku
injeksi / daftar obat
10. Plester
dan kasa steril (bila perlu)
C.
Prosedur
keterampilam
A.
Tahap Pra Interaksi
1. Mengecek
program terapi
2. Mencuci
tangan
3. Mengidentifikasi
pasien dengan benar
4. Menyiapkan
dan mendekatkan alat kedekat pasien
B.
Tahap Orientasi
1. Mengucapkan
salam, menyapa pasien, memperkenalkan diri.
2. Melakukan
kontrak untuk tindakan yang akan dilakukan.
3. Menjelaskan
tujuan dan prosedur tindakan.
4. Menanyakan
kesiapan dan meminta kerja sama pasien.
C.
Tahap Kerja
1. Menjaga
privacy.
2. Mengajak
pasien membaca Basmalah dan berdoa.
3. Memperhatikan
prinsip 12 benar pemberian obat.
4. Mengatur
posisi pasien sesuai tempat penyuntikan.
5. Membebaskan
daerah yang akan diinjeksi.
6. Memilih
area penusukan yang bebas dari tanda kekakuan, peradangan atau rasa gatal
(menghindari gangguan absorbsi obat).
7. Memasang
perlak dan alasnya dibawah area penyuntikkan.
8. Memakai
handscoon.
9. Menyiapkan
obat:
a. Mendesinfeksikan tutup
botol dengan menggunakan kapas alkohol.
b. Membuka tutup jarum
spuit.
c. Dengan hati-hati
menusuk jarum secara tegak lurus dengan tepat ditengah-tengah karet dari vial.
d. Mengambil obat dari
vial dengan memposisikan vial terbalik, pastikan ujung jarum berada dicairan
obat.
e. Tarik plunger untuk
mengaspirasi obat yang dibutuhkan, kemudian cabut jarum dari vial.
f. Aspirasikan obat ke
dalam spuit untuk mencegah obat terbuang bersama jarum, kemudian ganti jarum
spuit dengan jarum yang baru.
g. Mengeluarkan udara dari
dalam spuit sampai ujung jarum (keluar satu tetes obat dari ujung jarum)
h.
Memeriksa kembali
jumlah larutam yang ada pada spuit
i.
Meletakkan spuit ke
dalam bak instrumen.
10. Menentukan tempat penyuntikan
11. Membersihkan
kulit dengan kapas alkohol / air hangat (melingkar dari arah dalam kearah luar
dengan diameter 5 cm), tunggu sampai kering.
12. Menggunakan
ibu jari dan telunjuk untuk meregangkan area penyuntikan.
13. Menusukkan
spuit dengan sudut 90 drajat, jarum masuk 2/3 bagian sampai ke jaringan otot
(gerakan yang cepat saat menusukkan jarim dapat mengurangi rasa nyeri).
14. Melakukan
aspirasi dan pastikan darah tidak masuk spuit.
15. Jika
terdapat darah kemungkinan jarum mengenai pembuluh darah :
a.
Tarik kembali jarum
dari kulit.
b.
Tekan tempat penusukkan
dengan kapas alkohol.
c.
Observasi adanya Hematom
atau memar, kalau perlu berikan plester.
d.
Siapkan obat yang baru,
mulai dari awal, pilih area penusukan yang baru.
16. Jika
tidak terdapat darah, masukkan obat secara perlahan.
17. Mencabut
jarum dari tempat tusukan.
18. Menekan
daerah tusukan dengan kapas basah untuk menghilangkan nyeri.
19. Membuang
spuit ke dalam bengkok (jarim tertutup) atau ke dalam safety box (jarum terbuka).
D.
Tahap Terminasi
1. Melakukan
evaluasi tindakan yang dilakukan.
2. Menyampaikan
rencana tindak lanjut / RTL
3. Merapikan
pasien dan lingkungan.
4. Mengajak
pasienembaca hamdalah dan berdo’a kepada Allah.
5. Berpamitan
dengan pasien dan menyampaikan kontrak yang akan datang.
6. Membereskan
dan mengembalikan alat ke tempat semula.
7. Mencuci
tangan.
8. Mencatat
kegiatan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Black, J.M. & Hawks, J.H (2014)
Keperawatan medikal bedah manajemen klinis untuk hasil yang diharapkan ed.8, Singapura:
Elsevier.
Koizer, B. (2008). Fundamental of
nursing: concept, process and practice. Pearson Education.
Timby, B. K (2009). Fundamental Nursing
Skills and Concepts. Philadelphia: Lippincot William & Wilkins.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar